Kala Senja di Kenya
Jalanan Kenya penuh dengan rakyat, raungan mereka akan
revolusi terus berlangsung. Perjuangan menentang tirani dan menyerukan
kebebasan nampak dimana-mana. Keringat yang mengucur deras serta panasnya terik
matahari tidak dapat menghentikan langkah mereka. Satu hal yang sama-sama
mereka inginkan, sebuah perubahan.
Boniface Mwangi (29), seorang aktivis muda yang memiliki
tekad untuk merubah nasib para rakyat Kenya. Pria berkepala plontos ini yakin,
perubahan akan dapat dilakukan cepat atau lambat. Hanya saja, baginya rakyat
Kenya adalah para pengecut. Yang hanya berani berkoar di belakang saja,
memprotes segala kebijakan pemerintah tanpa berbuat sesuatu.
Boniface ingin menunjukkan kekecewaannya pada tirani yang
sewenang-wenang dengan cara yang lain. Ia menggunakan media mural sebagai
bentuk sindiran dan kritik pada pemerintah. Dengan begitu ia harap rakyat akan
terdorong juga untuk membuat perubahan, tanpa bersembunyi di dalam
dinding-dinding ketakutan mereka.
Dengan adanya mural itu, Boniface berharap revolusi dapat
dilakukan tanpa adanya pertumpahan darah ataupun korban jiwa. Meskipun itu
berarti ia menentang pemerintah, karena perbuatannya itu dianggap ilegal.
Setiap membuat graffiti ia terpaksa harus kucing-kucingan dengan polisi.
Terlebih lagi, ia menggambarkan sang pemerintah sebagai burung bangkai.
Sindirannya yang terbilang keras itu membuat ia tak luput
dari sorot mata pemerintah negaranya. Meski
begitu, ia optimis jika pandangannya merupakan gambaran perasaan rakyat Kenya
itu sendiri. Rakyat telah lelah oleh
sikap pemerintah yang digambarkan seperti burung bangkai yang kerap kali rakus
melahap apapun yang ada di depannya.
Pagi itu semua orang berlalu lalang. Mural buatan Boniface
dan teman-temannya membuat warga Kenya berdiri mematung. “inilah gambaran dari
realita itu,” kata seorang warga. Mural itu menggemparkan para politisi hingga
akhirnya mencari keberadaan Boniface. “saya sempat ditawari untuk kerjasama dan
ditawari uang. Kau punya masa depan, kau punya anak-anak, tapi saya bilang
tidak. Dan lalu muncul ancaman” ujar Boniface.
Para politisi Kenya dapat dikatakan sebagai Iblis dengan
rupa manusia. Bahkan untuk pemilu 2013, dua kandidat terjerat kasus untuk
masalah kemanusiaan. Kurang lebih 1.100 rakyat Kenya harus mati sia-sia demi
kepentingan politik. Kehancuran dimana-mana, rasa takut menyebar layaknya
wabah, serta ketidakpastian akan masa depan.
Boniface, sebelum menjadi seorang pelukis mural, adalah
seorang fotografer jurnalistik. Foto-fotonya banyak sekali menggambarkan
kekerasan yang terjadi di Kenya. Ia menuturkan jika orang miskin di Kenya
sangat rawan terkena pelanggaran HAM. Hal yang kontras dengan orang kaya yang
dapat “membeli hukum” dan ditawarkan perlindungan. Apalagi pemerintah yang
menurutnya kebal dari hukum.
Permasalahan yang terjadi di Kenya menarik simpati dunia.
Kofi Annan sebagai perwakilan PBB juga sempat datang ke Kenya. Namun Boniface
sedih karena hal itu tidak merubah apapun. “aku sempat ingin bunuh diri”
katanya.
Lama kelamaan, perasaan sedihnya itu terkubur dalam-dalam
dan kemudian ia berpikir untuk memajang fotonya untuk menarik simpati para
rakyat. Semenjak itu ia mengadakan “Picha
Mtaani” atau pameran jalanan, lahir.
Foto-fotonya kemudian dipajang di jalanan, dan ternyata
foto-foto tentang kekerasan itu menarik minat
anyak kalangan. Meskipun foto itu terbilang sadis. Beberapa pengunjung
bahkan merasakan empati yang mendalam. Hati mereka renyuh ketika melihat
penderitaan yang dialami para warga Kenya. Tak jarang, mereka menitikkan air
mata.
Sejak 2009, pameran ini telah muncul di 20 kota di Kenya. Dan
dari itu lebih dari 700.000 warga telah melihat pameran ini. Kengerian yang
terpatri dari foto-oto yang ada membuat slaah seorang pengunjung protes. “ini
akan menghantui orang-orang. Mereka yang lupa akan kekerasan akan teringat lagi
dengan foto-foto ini”, ujarnya.
Meskipun rasa takut dan ada kecaman yang menghantui dirinya,
Boniface tetap berjuang untuk perubahan di negaranya. Lebih dari 40 gambar yang
ia dan temannya buat. Baginya, hal ini adalah sebuah tantangan agar perubahan
tetap terjadi. Meskipun sempat panik karena rasa takutnya, namnun setelah ia mengecat
graffiti, ia dapat tersenyum kembali.
Malam yang gelap menjadi sebuah cahaya penuh semangat
untuknya. Karena disaat malam inilah ia dan krunya beraksi. Hasil graffiti dan
muralnya seringkali dibersihkan dan kemudian hilang. Tetapi, ia masih mempunyai
foto-foto kekerasan. Kesadaran para rakyat akan adanya sebuah revolusi lah yang
diinginkan dirinya dan krunya.
Menjelang pemilu 2013 Boniface kembali menyelenggarakan
pameran jalanannya. Namun kali ini, ada orang dari pemerintahan yang memaksa
agar foto-foto tersebut tidak lagi dimunculkan di muka umum. Bahkan, foto-foto
itu mulai dicopot secara paksa. Ancaman itu bahkan memaksa agar tidak ada lagi
yang melihat foto-foto itu. Ancamannya adalah kurungan penjara.
Tak banyak yang dapat Boniface dan teman-temannya perbuat.
Meski kesedihan dan kekecewaan berkecamuk di hati, mereka harus siap
menerimanya. Pameran itu kini resmi ditutup. Tetapi hal itu tidak menghalangi
Boniface dan teman-temannya untuk menyerukan suaranya. Kini, ia membuat peti
mati dengan skandal-skandal di Kenya, dan berencana untuk meletakkannya di
depan gedung parlemen Kenya.
Tindakan itu kemudian disebut revolusi Ballot. Demonstrasi
dan arak-arakan nyaris berjalan ricuh jika tanpa Boniface. Semua menginginkan
perubahan, semua ingin presiden mundur. Sayangnya, usaha mereka terkesan
sia-sia dan peti-peti itu dibawa dengan truk.
Kala itu senja menyelimuti Kenya. Cahaya sang mentari
tertutup oleh duka. Raut wajah para rakyat dihias kekecewaan, kesedihan dan
bahkan keputusasaan. Boniface hanya dapat berharap agar perubahan terjadi,
cepat ataupun lambat. Atau anaknya yang membawa perubahan. Raga bisa saja mati,
tetapi tidak dengan ide.
Frederick
11140110148
B1