Jumat, 22 Februari 2013

Kala Senja di Kenya



Kala Senja di Kenya

   Jalanan Kenya penuh dengan rakyat, raungan mereka akan revolusi terus berlangsung. Perjuangan menentang tirani dan menyerukan kebebasan nampak dimana-mana. Keringat yang mengucur deras serta panasnya terik matahari tidak dapat menghentikan langkah mereka. Satu hal yang sama-sama mereka inginkan, sebuah perubahan.

Boniface Mwangi (29), seorang aktivis muda yang memiliki tekad untuk merubah nasib para rakyat Kenya. Pria berkepala plontos ini yakin, perubahan akan dapat dilakukan cepat atau lambat. Hanya saja, baginya rakyat Kenya adalah para pengecut. Yang hanya berani berkoar di belakang saja, memprotes segala kebijakan pemerintah tanpa berbuat sesuatu. 

Boniface ingin menunjukkan kekecewaannya pada tirani yang sewenang-wenang dengan cara yang lain. Ia menggunakan media mural sebagai bentuk sindiran dan kritik pada pemerintah. Dengan begitu ia harap rakyat akan terdorong juga untuk membuat perubahan, tanpa bersembunyi di dalam dinding-dinding ketakutan mereka. 

Dengan adanya mural itu, Boniface berharap revolusi dapat dilakukan tanpa adanya pertumpahan darah ataupun korban jiwa. Meskipun itu berarti ia menentang pemerintah, karena perbuatannya itu dianggap ilegal. Setiap membuat graffiti ia terpaksa harus kucing-kucingan dengan polisi. Terlebih lagi, ia menggambarkan sang pemerintah sebagai burung bangkai.

Sindirannya yang terbilang keras itu membuat ia tak luput dari sorot mata pemerintah negaranya.  Meski begitu, ia optimis jika pandangannya merupakan gambaran perasaan rakyat Kenya itu sendiri.  Rakyat telah lelah oleh sikap pemerintah yang digambarkan seperti burung bangkai yang kerap kali rakus melahap apapun yang ada di depannya. 

Pagi itu semua orang berlalu lalang. Mural buatan Boniface dan teman-temannya membuat warga Kenya berdiri mematung. “inilah gambaran dari realita itu,” kata seorang warga. Mural itu menggemparkan para politisi hingga akhirnya mencari keberadaan Boniface. “saya sempat ditawari untuk kerjasama dan ditawari uang. Kau punya masa depan, kau punya anak-anak, tapi saya bilang tidak. Dan lalu muncul ancaman” ujar Boniface. 


Para politisi Kenya dapat dikatakan sebagai Iblis dengan rupa manusia. Bahkan untuk pemilu 2013, dua kandidat terjerat kasus untuk masalah kemanusiaan. Kurang lebih 1.100 rakyat Kenya harus mati sia-sia demi kepentingan politik. Kehancuran dimana-mana, rasa takut menyebar layaknya wabah, serta ketidakpastian akan masa depan.

Boniface, sebelum menjadi seorang pelukis mural, adalah seorang fotografer jurnalistik. Foto-fotonya banyak sekali menggambarkan kekerasan yang terjadi di Kenya. Ia menuturkan jika orang miskin di Kenya sangat rawan terkena pelanggaran HAM. Hal yang kontras dengan orang kaya yang dapat “membeli hukum” dan ditawarkan perlindungan. Apalagi pemerintah yang menurutnya kebal dari hukum.

Permasalahan yang terjadi di Kenya menarik simpati dunia. Kofi Annan sebagai perwakilan PBB juga sempat datang ke Kenya. Namun Boniface sedih karena hal itu tidak merubah apapun. “aku sempat ingin bunuh diri” katanya.  

Lama kelamaan, perasaan sedihnya itu terkubur dalam-dalam dan kemudian ia berpikir untuk memajang fotonya untuk menarik simpati para rakyat.  Semenjak itu ia mengadakan “Picha Mtaani” atau pameran jalanan, lahir.
Foto-fotonya kemudian dipajang di jalanan, dan ternyata foto-foto tentang kekerasan itu menarik minat  anyak kalangan. Meskipun foto itu terbilang sadis. Beberapa pengunjung bahkan merasakan empati yang mendalam. Hati mereka renyuh ketika melihat penderitaan yang dialami para warga Kenya. Tak jarang, mereka menitikkan air mata.
Sejak 2009, pameran ini telah muncul di 20 kota di Kenya. Dan dari itu lebih dari 700.000 warga telah melihat pameran ini. Kengerian yang terpatri dari foto-oto yang ada membuat slaah seorang pengunjung protes. “ini akan menghantui orang-orang. Mereka yang lupa akan kekerasan akan teringat lagi dengan foto-foto ini”, ujarnya.

Meskipun rasa takut dan ada kecaman yang menghantui dirinya, Boniface tetap berjuang untuk perubahan di negaranya. Lebih dari 40 gambar yang ia dan temannya buat. Baginya, hal ini adalah sebuah tantangan agar perubahan tetap terjadi. Meskipun sempat panik karena rasa takutnya, namnun setelah ia mengecat graffiti, ia dapat tersenyum kembali.

Malam yang gelap menjadi sebuah cahaya penuh semangat untuknya. Karena disaat malam inilah ia dan krunya beraksi. Hasil graffiti dan muralnya seringkali dibersihkan dan kemudian hilang. Tetapi, ia masih mempunyai foto-foto kekerasan. Kesadaran para rakyat akan adanya sebuah revolusi lah yang diinginkan dirinya dan krunya. 

Menjelang pemilu 2013 Boniface kembali menyelenggarakan pameran jalanannya. Namun kali ini, ada orang dari pemerintahan yang memaksa agar foto-foto tersebut tidak lagi dimunculkan di muka umum. Bahkan, foto-foto itu mulai dicopot secara paksa. Ancaman itu bahkan memaksa agar tidak ada lagi yang melihat foto-foto itu. Ancamannya adalah kurungan penjara.  

Tak banyak yang dapat Boniface dan teman-temannya perbuat. Meski kesedihan dan kekecewaan berkecamuk di hati, mereka harus siap menerimanya. Pameran itu kini resmi ditutup. Tetapi hal itu tidak menghalangi Boniface dan teman-temannya untuk menyerukan suaranya. Kini, ia membuat peti mati dengan skandal-skandal di Kenya, dan berencana untuk meletakkannya di depan gedung parlemen Kenya.

Tindakan itu kemudian disebut revolusi Ballot. Demonstrasi dan arak-arakan nyaris berjalan ricuh jika tanpa Boniface. Semua menginginkan perubahan, semua ingin presiden mundur. Sayangnya, usaha mereka terkesan sia-sia dan peti-peti itu dibawa dengan truk. 

Kala itu senja menyelimuti Kenya. Cahaya sang mentari tertutup oleh duka. Raut wajah para rakyat dihias kekecewaan, kesedihan dan bahkan keputusasaan. Boniface hanya dapat berharap agar perubahan terjadi, cepat ataupun lambat. Atau anaknya yang membawa perubahan. Raga bisa saja mati, tetapi tidak dengan ide.

Frederick
11140110148
B1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar