Selasa, 19 Maret 2013

Dengarlah Rintihan Kami...






Mas Wahur dan Keluarga

Asap kopi kian mengebul, berpadu dengan asap rokok dalam ruang sesak ini. Radio yang berbunyi, memberi informasi kondisi jalan dan sesekali mengeluarkan suara “BZZZT....BZZZZT” mengisi kesunyian pagi. Jam di dinding menunjukkan pukul 04.00 WIB. Sesosok Pria muncul dari gelapnya lorong kamar, dan menghampiri saya dengan senyum hangat.
Wahur namanya, dia merupakan seorang supir taksi Express. Perawakannya tinggi, sekitar 176 cm. Kulitnya hitam, dan dia menawari saya kopi. “Kopi mas erik?” tanyanya pada saya. Senyum kembali menghiasi wajahnya. Sesekali dia memperhatikan saya, sembari menghisap sebatang rokok Dji Sam Soe. Matanya menatap saya dalam-dalam. “Mau tanya soal apa mas?” tanyanya.
            “Soal kehidupan, kehidupannya mas,” jawab saya. Dia tertawa terkekeh. Bahkan, sampai batuk-batuk karena sedang menghisap rokok. “Kehidupan saya ya gini-gini ajah, ga ada yang spesial,” katanya. Deru nafasnya terdengar di sekujur ruangan. Saya mencoba membuka mulut, membeberkan niat saya secara detail.
             Di rumah yang bahkan hanya berupa satu kamar dan satu toilet ini, tentu akan sangat berasa hidup dengan empat orang anak dan seorang istri yang nampaknya masih muda. Ah, saya jadi merasa berdosa telah menyita waktunya, karena mendadak saya mampir ke rumahnya tanpa pemberitahuan sebelumnya.
            “Oh!! Hidup jadi wong cilik toh!” kata Mas Wahur (40) setelah mengerti apa yang saya maksud, dia pun mulai bercerita. Hidup sebagai seorang supir taksi tidaklah mudah. Setoran semakin meningkat, sementara penumpang semakin berkurang dari hari ke hari. Padahal, biaya hidup di kota semakin meningkat.
            Kondisi yang mencekik ini menjadikan dia seperti sapi perah bagi juragan taksinya. Dia bercerita jika hidup ini semakin tak adil. Yang kaya menjadi semakin kaya, yang miskin menjadi semakin miskin. Untuk menabung saja, ia harus merelakan tak makan agar uangnya terkumpul demi hidup yang lebih baik.
            Lain halnya dengan Wahur, Sopan (36) dapat menabung dan membuka usaha kecil-kecilan yaitu fotokopi di warung depan rumahnya. Pria berpostur tinggi yang selalu tersenyum sumringah ini membenarkan pernyataan Wahur. “Emang sih mas, yang namanya supir ya gaji engga seberapa, apa lagi tuntutan setoran, tapi ya mau gimana lagi,” jelas Sopan.
            Lantas apa yang dapat membuat dia dapat menabung? “Saya ingat anak saya mas, saya boleh jadi wong cilik, tapi saya tidak mau dia mengikuti jejak saya,” jawab Sopan yang memeluk hangat anaknya yang mulai beranjak remaja. Terus terang saya tertegun. Hidup di rumah yang sempit ini, bersama ratusan bahkan ribuan nyamuk, belum lagi tikus yang berlalu lalang seperti di New York Square, tentunya tidak akan berasa nyaman.
            Tapi toh, Sopan enjoy dengan hidupnya saat ini. Setidaknya dia punya keluarga kecil yang dia sayangi, dan rumah tempatnya bernaung. Dia merasa jika pemerintah perlu memerhatikan orang-orang yang senasib dengannya dan yang lebih menderita dari dirinya. Tidak semua menikmati hidup layaknya Sopan. Tentu, banyak dari mereka yang ingin keluar dari jerat kemiskinan. “Saya harap pemerintah membuka mata akan kondisi rakyatnya, mereka semua tercekik, dan menjerit. Tak sedikit dari mereka pasrah dan memilih untuk mati,” katanya sembari menatap kedua mata saya, menguncinya dengan tatapan yang serius.
            Teman seperjuangan Sopan, Miko mengungkapkan hal yang senada. Dia menganggap pemerintah perlu untuk memperhatikan rakyat miskin jauh lebih lagi dari yang sekarang. Lebih lagi manajemen dan pemilik perusahaan taksi yang menurutnya harus menurunkan harga setoran.  Jika tidak, hal itu akan terus mencekik pendapatannya dan kenyamanan hidupnya.
            Inilah kenyataan hidup wong cilik di negeri ini. Rintihan mereka terus berlanjut, dan suara mereka teredam beserta dengan impian mereka untuk lari dari nasib ini. keserakahan para pemilik perusahaan taksi terus saja mencekik hidup mereka dan memeras mereka layaknya para romusha. Mereka kian terhimpit demi kemakmuran para pemilik perusahaan taksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar