“Aku
wong ndeso, sliramu wong kutho..Aku wong miskin, uripmu terjamin”
Penggalan lirik lagu “Wong Ndeso” ini memang menyesakkan dada,
tetapi inilah realita. Di dunia ini, tak satupun orang berharap untuk
dilahirkan sebagai orang miskin. Termasuk Sri Wahyuni, seorang Pembantu Rumah
Tangga. Dia sudah lebih dari 20 tahun menjalani profesi itu. Tapi Sri tidak bisa memilih, dia harus
bertahan hidup demi memenuhi kebutuhan dirinya dan putrinya yang mulai beranjak
dewasa.
Masa kecil Sri dilaluinya dengan
berbagai penderitaan. Ayahnya yang meninggal saat Sri masih dalam kandungan
membuat dia dan 6 saudaranya terpaksa harus hidup dengan teramat sederhana.
Bahkan, seringkali keluarga Sri tidak makan demi menabung untuk biaya merantau
saudara-saudaranya yang sudah bosan hidup dibawah garis kemiskinan.
Sri kecil tak ingin hanya berdiam
diri, batinnya resah, dia juga mau merantau, tapi apa daya ibunya tidak
mengizinkan. Ibu Sri percaya jika wanita itu kerjanya di dapur, bukan untuk
mencari nafkah. Dia berharap suatu saat akan ada pria yang berniat untuk
meminang Sri, sehingga kondisi keuangan keluarga tidak semakin memburuk.
Tapi Sri menolak permintaan
ibunya. Dia memang sayang ibunya, lebih dari siapapun, tetapi dia juga tidak
mau kehormatannya direnggut oleh orang yang tidak dia cintai. Hatinya
bergejolak. Dalam perasaan yang amat kacau dan pikiran yang terus berkecamuk,
dia memutuskan untuk pergi dari rumahnya menuju kota Jakarta.
Sebelum pergi, dia menulis surat
permintaan maaf untuk ibunya, dengan air mata yang terus mengalir membasahi
pipinya, Sri mengambil seluruh uang tabungannya dan bergegas menuju stasiun
kereta untuk ke Jakarta. Dengan modal pakaian secukupnya dan tekad untuk
merubah nasib keluarga, Sri memantapkan langkahnya.
Waktu itu tahun 1997, setahun
sebelum lahirnya era reformasi. Sri sampai di Jakarta dengan segala
kepolosannya. Dia tak tahu kemana arah tujuannya, dan hanya bisa meminta
temannya yang juga merantau untuk mencarikan pekerjaan. Akhirnya, Sri memutuskan
untuk menjadi seorang pengasuh bayi, atau babysitter.
Keputusan Sri ini membuatnya memiliki sikap keibuan yang tinggi. Ia
asuh anak-anak majikannya dengan rasa sayang, layaknya darah daging sendiri.
Tetapi seringkali Sri harus berhenti dan berpindah majikan, karena perbuatan
tak menyenangkan dari majikannya yang melecehkan kehormatannya.
Sri, akhirnya memutuskan berhenti
menjadi seorang babysitter dan menjadi pembantu rumah tangga seorang janda di
kawasan Bekasi Timur. Disana, kebahagiaan Sri mulai nampak, meski tak jarang
penderitaan menghampirinya. Seorang pria mulai mendekati Sri, menjanjikan
kebahagiaan namun hanya sebatas dimulut saja.
Tak jarang Sri dimintai uang oleh
kekasihnya. Berbagai rayuan manis yang terucap, membuat Sri terlelap dalam
mimpi indah mempunyai keluarga harmonis dan sederhana. Nyatanya, kekasih Sri
tega meninggalkannya setelah Tabungan Sri dia bawa lari. Sri tak dapat berbuat
apa-apa. Dia hanya menangis bersama derasnya hujan di malam yang dingin.
Namun, Tuhan tidak pernah tidur.
Sri akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Seorang pria bernama Jatmiko setia
kepadanya, dan tidak pernah membiarkan Sri menderita. Miko menjadi tempat Sri
berbagi cerita, dan tentunya berbagi kasih. Hingga pada akhirnya Miko meminang Sri di tahun
2004, dengan pesta yang seadanya tetapi penuh senyum dari keduanya.
Kehidupan Sri sebagai seorang istri jauh lebih
baik dibandingkan saat dirinya masih gadis yang penuh dengan derita serta air
mata yang menemani malamnya. Sri melewati hari demi hari bersama suaminya, yang
menjadi tenaganya di kala dia tak sanggup lagi bekerja. Kesedihan melanda Sri ketika tahu suaminya
sering bergonta-ganti pekerjaan karena majikannya yang kejam.
Era baru penderitaan Sri dimulai
ketika putri pertamanya, “Balqis” lahir. Dirinya sulit mencari dokter yang
berbiaya murah, sedangkan waktu persalinanya sudah tidak dapat diundur lagi.
Dalam keputusasaan, Sri akhirnya dibawa suaminya ke bidan setelah suaminya
mendapat pinjaman uang dari temannya.
Pada tengah malam, 31 Oktober 2006, putri
pertama Sri akhirnya lahir. Kelahiran putri pertamanya diwarnai senyum oleh
orang orang di sekelilingnya. Namun, petaka besar menanti Sri. Suaminya berubah
total. Miko Menjadi orang yang malas dan malah melupakan tugasnya sebagai seorang
suami.
Miko berhenti bekerja dan malah sering pergi memancing. Dia
mementingkan dirinya dibanding putrinya. Seringkali Sri bertengkar dengan
suaminya karena Miko seakan tidak memikirkan keluarganya dan tidak mau tahu
urusan keluarganya. Sri kembali menangis,
kebahagiaan yang didapatkannya hanyalah sesaat.
Kini dia merindukan kampungnya,
meski tak dapat kembali karena keterbatasan uang. Mimpi untuk merubah nasib
semakin pudar, yang ada hanyalah air mata, berharap suaminya kembali menjadi
yang dulu, yang dia sayangi. Tetes air
mata Sri kembali terjatuh, menahan pedih di hati, berharap waktu dapat berputar
kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar