Selasa, 07 Mei 2013

Wisata Budaya di Kampung Betawi




“nyang kiri serempak, nyang kanan juge serempak, nyang tengah pada ga make sempak!”
Pantun jenaka itu dilontarkan salah seorang pemain Lenong yang mengundang tawa para pengunjung Kampung Betawi. Inilah guyonan khas Betawi yang blak-blakan. Meskipun seringkali para pemain menghina satu sama lain, tetapi tidak ada yang tersinggung ataupun marah.
Di sekeliling kampung terdapat banyak rumah untuk homestay, kekeluargaan amat berasa disini, hal yang terlihat jelas saat para warga saling bahu-membahu untuk membuat tenda yang megah didepan panggung. Maklum, akan ada anak yang hajatan. Di sisi kampung, ada pertunjukan Ondel-ondel. Banyak anak yang melihat, walau beberapa ada yang takut dan menangis.
Anak-anak berlari dan tertawa ria melihat Ondel-ondel. harumnya soto betawi dan bajigur tercium dari jauh, dan  hembusan angin dan alunan lagu Almarhum Benyamin terdengar serasi. Suasana ini khas Betawi. Ditambah lagi dengan ibu-ibu latah, “eh copot...copot”. mengingatkan saya pada sosok Mpok Atiek.
Inilah Kampung Betawi yang terletak di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Kampung ini berupa layaknya sebuah komplek/ perumahan. Jalan penuh bebatuan. Saya mulai memasuki salah satu rumah yang khas bergaya Betawi, dihias kayu yang membuatnya terasa sejuk di dalam.
“Suasana yang nyaman”, Pikir saya. Tidak berapa lama  seorang wanita paruh baya menghampiri saya. Tangannya gemetar, memegang pundak saya, emmpersilahkan saya untruk duduk. Kerut di dahinya dan kantong mata yang ada menandakan beratnya pekerjaan yang dia lakukan.
Irma Rianti, salah seorang pengelola kampung ini, berbicara tentang banyak hal mengenai kampung ini ke saya. Salah satu hal yang menarik, kampung ini tidak sepenuhnya dihuni orang Betawi, tetapi juga suku lain seperti Jawa, dan ada orang Papua. Yang menarik, mereka yang berasal dari suku lain juga sanggup berbicara Betawi fasih. Sungguh unik melihat berbagai orang dari bermacam suku berpantun dengan bahasa Betawi.
Akses menuju kampung ini tidaklah sulit, karena semua orang disini akan mengerti jika kita mengarah ke RW 08. Kampung ini menyatu dengan objek wisata setu babakan, dan tutup pada pukul 17.00 WIB. Meskipun banyak pedagang di sekitar Setu Babakan, tetapi kampung ini tetap terawat dan tidak terkesan kumuh.
Pepohonan yang rindang menyambut tiap pengunjung yang hendak masuk ke dalam. Aroma khas dodol muncul dari dalam sebuah warung, bertuliskan “Dodol Nyak Mai”. Sayapun mencoba berjalan menelusuri jalan setapak menuju warung itu. Dari balik dahan-dahan pohon mangga, saya melihat pengadukan adonan dodol dengan alat yang serupa dengan dayung perahu.
Warung yang menyatu dengan rumah disampingnya itu terlihat sederhana. Atap-atapnya terkikis air hujan. Dua perempuan bertubuh gemuk secara bergantian mengaduk adonan coklat kental, yang ternyata adalah dodol. Adonan itu mengisi penuh wajan yang bahkan sebesar anak manusia itu. Dibawah wajan ekstra besar itu, ada tungku api yang memastikan adonan dodol tetap panas.
Sinar matahari terik tidak menghentikan para pengunjung kampung untuk melihat proses pembuatan dodol ini lebih dekat. Beberapa mulai merogoh saku mereka untuk mencicipi dodol yang menurut pembuatnya, Juwani tidak pernah diganti resepnya semenjak awal dibuat.
Meski disebut Kampung Betawi, tetapi makanan yang ada disini tidak semuanya khas betawi, ada juga mie ayam dan baso. Bahkan ada batagor. Rata-rata penjual fasih berbahasa Betawi, dan semua penjual makanan menawarkan barang dagangannya dengan harga yang wajar, berbeda dengan tempat wisata lain yang seringkali harganya “ekstrim”.
Saya memutuskan untuk kembali ke area Kampung Betawi setelah mendengar alunan lagu yang memanjakan telinga saya. Instrumen ini seakan menghipnotis saya untuk terus berjalan menuju Kampung. Setibanya di depan gerbang kampung, saya terkejut melihat ribuan pengunjung datang berbondong-bondong ke RW 08.
Ternyata, di hari ini ada Kesenian Gambang Kromong yang dinanti-nanti oleh para pengunjung. Kebetulan, sanggar kesenian Gambang Kromong yang akan datang adalah sanggar yang terkenal lucu, dan dapat mengundang tawa. Terlihat banyak sekali anak-anak yang kejar-kejaran, dan gerombolan ibu-ibu yang asik mengobrol.
Tikar dan Koran digelar di depan rumah-rumah yang ada. Kepadatan pengunjung kampung menjadi sama seperti Pekan Raya jakarta. Lautan manusia. Berkali-kali saya menginjak kaki pengunjung karena sulitnya berjalan dalam hiruk-pikuk keramaian yang ada. Situasi Kampung Betawi yang tadinya tenang, mendadak ramai bagaikan pusat bisnis dunia.
Amat disayangkan, kotoran memenuhi lantai rumah, sampah-sampah berserakan, hingga toilet pun menjadi kotor dan terbengkalai karena ulah para pengunjung yang tidak memerhatikan kebersihan. Banyak dari pengunjung juga melempar sesuatu ke dalam Setu Babakan, misalnya makanan yang tidak habis ataupun bungkus snack. Kondisi ini membuat air danau menjadi berwarna hijau kumuh.
Di depan panggung, para personil Gambang Kromong memainkan isntrumen khas betawi yang nyaring dan indah didengar. Para pengunjung secara tertib menyaksikan pertunjukan itu. Beberapa mengambil gambar, tapi tidak menutupi pandangan pengunjung lainnya. Beberapa lagi hanya sekilas melihat lalu berjalan ke arah Setu.
Sambil menyeruput kopi yang saya beli dari warung yang juga menjual Soto Betawi, saya berjalan dan melihat keadaan sekitar Setu Babakan. Banyak sekali kendaraan parkir, dan ada bangku untuk menikmati suasana Setu. Mayoritas yang duduk di bangku Setu Babakan adalah keluarga ataupun pasangan.
Puas menikmati kopi, saya kembali memasuki area RW 08. Tapi amat disayangkan, hujan turun deras, membasahi semua yang berada di luar area rumah. Meskipun para pengunjung kehujanan, sebagian pengunjung tidak menghiraukan hujan dan tetap menikmati alunan lagu Gambang Kromong.
Hari mulai senja, matahari mulai tenggelam. Para pengunjung Kampung Betawi mulai berbenah dan bersiap untuk pulang. Hujanpun telah berhenti. Tetes air di daun-daun yang rindang menjadi saksi bisu derasnya hujan yang turun. Orang-orang mulai meninggalkan panggung, termasuk saya. Saat saya berlalu, saya melihat sosok Ibu Irma yang tersenyum pada saya.
“Sampai jumpa, Kampung Betawi”, pikir saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar