Selasa, 14 Mei 2013

Jelang Lebaran : Tiket Kereta Api Ludes Terjual






Minggu pagi (12/05), kerumunan orang sudah memenuhi Stasiun Senen. Stasiun ini dibanjiri lautan manusia. Mereka semua memiliki satu tujuan, membeli tiket kereta jauh-jauh hari untuk mudik ke kampung halamannya. Loket-loket penuh dengan calon penumpang, dan penjaga loket terlihat kewalahan melayani permintaan para calon penumpang.
Menurut kesaksian Ibu Retno, salah seorang calon penumpang kereta berniat membeli tiket dengan rute Jakarta-Yogyakarta untuk tanggal 4 agustus, Stasiun Senen buka selama 24 jam dalam 4 hari terhitung sejak tanggal 9-12 mei. Malangnya, dia belum mendapatkan tiket hingga saat ini. PT. KAI berencana menambah kereta dan menaikkan harga tiket hingga 50% mendekati hari lebaran.
Ibu Retno hanya satu dari sekian banyak calon penumpang yang harus gigit jari karena kehabisan tiket kereta. Beberapa orang hanya dapat terduduk diam dan mengeluh tidak mendapatkan tiket kepada orang yang senasib ataupun sanak keluarganya.
10  loket yang tersedia di Stasiun Senen tidak sanggup memenuhi semua permintaan yang membludak. Antrian yang memanjang semenjak pagi malah semakin meningkat menjelang siang. Indera perasa seakan mati rasa di stasiun ini. Bau keringat bercampur dengan bau kulit buah dan sisa makanan.
Ditengah-tengah kondisi yang kurang nyaman, banyak anak-anak ditengah kerumunan orang-orang, dan ada juga seorang lansia yang tertidur dengan mulut menganga. Dan dari wajah para calon penumpang, sangat jelas terlihat mereka telah letih menunggu dalam waktu yang lama.
Membeli tiket kereta dari jauh-jauh hari ternyata adalah hal yang lumrah bagi para pemudik. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kehabisan tiket kereta dan kehabisan kereta. Maka, tidak mengejutkan jika loket sudah dibuka jauh-jauh hari. Beberapa pemudik mempunyai tanggal favorit mereka. Yang menarik, kini mereka dipastikan duduk dan tidak berdiri lagi bersesak-sesakan layaknya gambaran sebuah kereta ekonomi.
Adanya layanan tiket.com dan penjualan tiket melalui beberapa minimarket rupanya tidak membantu mengurangi membludaknya calon penumpang yang mengantri. Hal ini dikarenakan lambatnya respon  melalui jalur online serta struk pembayaran yang harus ditukar dengan tiket sehingga membuat calon penumpang bekerja dua kali.
Hal ini membuat para calon penumpang cenderung memilih untuk mengantri dibanding memesan online. Menurut Mas Joko, seorang pedagang minuman dan rokok di depan Stasiun Senen, praktek calo tetap saja beredar di stasiun ini.
Meskipun PT. KAI telah memberikan peraturan satu formulir satu identitas, dengan KTP untuk keterangannya, tetapi saja ada oknum-oknum calo yang “nakal”. Mereka biasanya menggunakan sanak keluarganya untuk ikut mengantri sehingga dapat memperoleh tiket untuk kemudian dijual lagi. “Terkadang ada juga yang pake tetangga”, ujar Joko.
“Fenomena calo ini tidak dapat dihentikan selama ada kebutuhan membeli tiket. Meskipun nantinya mereka memasang harga yang mahal, tentu tetap ada yang membeli, selama pada mau pulang kampung”, sambungnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar