Minggu pagi (12/05), kerumunan orang sudah memenuhi
Stasiun Senen. Stasiun ini dibanjiri lautan manusia. Mereka semua memiliki satu
tujuan, membeli tiket kereta jauh-jauh hari untuk mudik ke kampung halamannya.
Loket-loket penuh dengan calon penumpang, dan penjaga loket terlihat kewalahan
melayani permintaan para calon penumpang.
Menurut kesaksian Ibu Retno, salah seorang calon
penumpang kereta berniat membeli tiket dengan rute Jakarta-Yogyakarta untuk
tanggal 4 agustus, Stasiun Senen buka selama 24 jam dalam 4 hari terhitung
sejak tanggal 9-12 mei. Malangnya, dia belum mendapatkan tiket hingga saat ini.
PT. KAI berencana menambah kereta dan menaikkan harga tiket hingga 50%
mendekati hari lebaran.
Ibu Retno hanya satu dari sekian banyak calon
penumpang yang harus gigit jari karena kehabisan tiket kereta. Beberapa orang
hanya dapat terduduk diam dan mengeluh tidak mendapatkan tiket kepada orang
yang senasib ataupun sanak keluarganya.
10 loket yang
tersedia di Stasiun Senen tidak sanggup memenuhi semua permintaan yang
membludak. Antrian yang memanjang semenjak pagi malah semakin meningkat
menjelang siang. Indera perasa seakan mati rasa di stasiun ini. Bau keringat
bercampur dengan bau kulit buah dan sisa makanan.
Ditengah-tengah kondisi yang kurang nyaman, banyak
anak-anak ditengah kerumunan orang-orang, dan ada juga seorang lansia yang
tertidur dengan mulut menganga. Dan dari wajah para calon penumpang, sangat
jelas terlihat mereka telah letih menunggu dalam waktu yang lama.
Membeli tiket kereta dari jauh-jauh hari ternyata
adalah hal yang lumrah bagi para pemudik. Hal ini dilakukan untuk
mengantisipasi kehabisan tiket kereta dan kehabisan kereta. Maka, tidak mengejutkan
jika loket sudah dibuka jauh-jauh hari. Beberapa pemudik mempunyai tanggal
favorit mereka. Yang menarik, kini mereka dipastikan duduk dan tidak berdiri
lagi bersesak-sesakan layaknya gambaran sebuah kereta ekonomi.
Adanya layanan tiket.com dan penjualan tiket melalui
beberapa minimarket rupanya tidak membantu mengurangi membludaknya calon
penumpang yang mengantri. Hal ini dikarenakan lambatnya respon melalui jalur online serta struk pembayaran
yang harus ditukar dengan tiket sehingga membuat calon penumpang bekerja dua
kali.
Hal ini membuat para calon penumpang cenderung
memilih untuk mengantri dibanding memesan online. Menurut Mas Joko, seorang
pedagang minuman dan rokok di depan Stasiun Senen, praktek calo tetap saja
beredar di stasiun ini.
Meskipun PT. KAI telah memberikan peraturan satu
formulir satu identitas, dengan KTP untuk keterangannya, tetapi saja ada
oknum-oknum calo yang “nakal”. Mereka biasanya menggunakan sanak keluarganya
untuk ikut mengantri sehingga dapat memperoleh tiket untuk kemudian dijual
lagi. “Terkadang ada juga yang pake tetangga”, ujar Joko.
“Fenomena calo ini tidak dapat dihentikan selama ada
kebutuhan membeli tiket. Meskipun nantinya mereka memasang harga yang mahal,
tentu tetap ada yang membeli, selama pada mau pulang kampung”, sambungnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar