“nyang kiri serempak, nyang kanan juge serempak,
nyang tengah pada ga make sempak!”
Pantun jenaka itu dilontarkan salah seorang
pemain Lenong yang mengundang tawa para pengunjung Kampung Betawi. Inilah guyonan
khas Betawi yang blak-blakan. Meskipun seringkali para pemain menghina satu
sama lain, tetapi tidak ada yang tersinggung ataupun marah.
Di sekeliling kampung terdapat banyak rumah untuk
homestay, kekeluargaan amat berasa disini, hal yang terlihat jelas saat para
warga saling bahu-membahu untuk membuat tenda yang megah didepan panggung.
Maklum, akan ada anak yang hajatan. Di sisi kampung, ada pertunjukan
Ondel-ondel. Banyak anak yang melihat, walau beberapa ada yang takut dan
menangis.
Anak-anak berlari dan tertawa ria melihat
Ondel-ondel. harumnya soto betawi dan bajigur tercium dari jauh, dan hembusan angin dan alunan lagu Almarhum
Benyamin terdengar serasi. Suasana ini khas Betawi. Ditambah lagi dengan ibu-ibu
latah, “eh copot...copot”. mengingatkan saya pada sosok Mpok Atiek.
Inilah Kampung Betawi yang terletak di Lenteng
Agung, Jakarta Selatan. Kampung ini berupa layaknya sebuah komplek/ perumahan. Jalan
penuh bebatuan. Saya mulai memasuki salah satu rumah yang khas bergaya Betawi,
dihias kayu yang membuatnya terasa sejuk di dalam.
“Suasana yang nyaman”, Pikir saya. Tidak berapa
lama seorang wanita paruh baya
menghampiri saya. Tangannya gemetar, memegang pundak saya, emmpersilahkan saya
untruk duduk. Kerut di dahinya dan kantong mata yang ada menandakan beratnya
pekerjaan yang dia lakukan.
Irma Rianti, salah seorang pengelola kampung ini,
berbicara tentang banyak hal mengenai kampung ini ke saya. Salah satu hal yang
menarik, kampung ini tidak sepenuhnya dihuni orang Betawi, tetapi juga suku
lain seperti Jawa, dan ada orang Papua. Yang menarik, mereka yang berasal dari
suku lain juga sanggup berbicara Betawi fasih. Sungguh unik melihat berbagai
orang dari bermacam suku berpantun dengan bahasa Betawi.
Akses menuju kampung ini tidaklah sulit, karena
semua orang disini akan mengerti jika kita mengarah ke RW 08. Kampung ini
menyatu dengan objek wisata setu babakan, dan tutup pada pukul 17.00 WIB.
Meskipun banyak pedagang di sekitar Setu Babakan, tetapi kampung ini tetap
terawat dan tidak terkesan kumuh.
Pepohonan yang rindang menyambut tiap pengunjung
yang hendak masuk ke dalam. Aroma khas dodol muncul dari dalam sebuah warung,
bertuliskan “Dodol Nyak Mai”. Sayapun mencoba berjalan menelusuri jalan setapak
menuju warung itu. Dari balik dahan-dahan pohon mangga, saya melihat pengadukan
adonan dodol dengan alat yang serupa dengan dayung perahu.
Warung yang menyatu dengan rumah disampingnya itu
terlihat sederhana. Atap-atapnya terkikis air hujan. Dua perempuan bertubuh
gemuk secara bergantian mengaduk adonan coklat kental, yang ternyata adalah
dodol. Adonan itu mengisi penuh wajan yang bahkan sebesar anak manusia itu.
Dibawah wajan ekstra besar itu, ada tungku api yang memastikan adonan dodol
tetap panas.
Sinar matahari terik tidak menghentikan para
pengunjung kampung untuk melihat proses pembuatan dodol ini lebih dekat.
Beberapa mulai merogoh saku mereka untuk mencicipi dodol yang menurut
pembuatnya, Juwani tidak pernah diganti resepnya semenjak awal dibuat.
Meski disebut Kampung Betawi, tetapi makanan yang
ada disini tidak semuanya khas betawi, ada juga mie ayam dan baso. Bahkan ada
batagor. Rata-rata penjual fasih berbahasa Betawi, dan semua penjual makanan
menawarkan barang dagangannya dengan harga yang wajar, berbeda dengan tempat
wisata lain yang seringkali harganya “ekstrim”.
Saya memutuskan untuk kembali ke area Kampung
Betawi setelah mendengar alunan lagu yang memanjakan telinga saya. Instrumen
ini seakan menghipnotis saya untuk terus berjalan menuju Kampung. Setibanya di
depan gerbang kampung, saya terkejut melihat ribuan pengunjung datang
berbondong-bondong ke RW 08.
Ternyata, di hari ini ada Kesenian Gambang
Kromong yang dinanti-nanti oleh para pengunjung. Kebetulan, sanggar kesenian
Gambang Kromong yang akan datang adalah sanggar yang terkenal lucu, dan dapat
mengundang tawa. Terlihat banyak sekali anak-anak yang kejar-kejaran, dan
gerombolan ibu-ibu yang asik mengobrol.
Tikar dan Koran digelar di depan rumah-rumah yang
ada. Kepadatan pengunjung kampung menjadi sama seperti Pekan Raya jakarta.
Lautan manusia. Berkali-kali saya menginjak kaki pengunjung karena sulitnya
berjalan dalam hiruk-pikuk keramaian yang ada. Situasi Kampung Betawi yang
tadinya tenang, mendadak ramai bagaikan pusat bisnis dunia.
Amat disayangkan, kotoran memenuhi lantai rumah,
sampah-sampah berserakan, hingga toilet pun menjadi kotor dan terbengkalai
karena ulah para pengunjung yang tidak memerhatikan kebersihan. Banyak dari
pengunjung juga melempar sesuatu ke dalam Setu Babakan, misalnya makanan yang
tidak habis ataupun bungkus snack. Kondisi ini membuat air danau menjadi
berwarna hijau kumuh.
Di depan panggung, para personil Gambang Kromong
memainkan isntrumen khas betawi yang nyaring dan indah didengar. Para
pengunjung secara tertib menyaksikan pertunjukan itu. Beberapa mengambil
gambar, tapi tidak menutupi pandangan pengunjung lainnya. Beberapa lagi hanya
sekilas melihat lalu berjalan ke arah Setu.
Sambil menyeruput kopi yang saya beli dari warung
yang juga menjual Soto Betawi, saya berjalan dan melihat keadaan sekitar Setu
Babakan. Banyak sekali kendaraan parkir, dan ada bangku untuk menikmati suasana
Setu. Mayoritas yang duduk di bangku Setu Babakan adalah keluarga ataupun
pasangan.
Puas menikmati kopi, saya kembali memasuki area
RW 08. Tapi amat disayangkan, hujan turun deras, membasahi semua yang berada di
luar area rumah. Meskipun para pengunjung kehujanan, sebagian pengunjung tidak
menghiraukan hujan dan tetap menikmati alunan lagu Gambang Kromong.
Hari mulai senja, matahari mulai tenggelam. Para
pengunjung Kampung Betawi mulai berbenah dan bersiap untuk pulang. Hujanpun
telah berhenti. Tetes air di daun-daun yang rindang menjadi saksi bisu derasnya
hujan yang turun. Orang-orang mulai meninggalkan panggung, termasuk saya. Saat
saya berlalu, saya melihat sosok Ibu Irma yang tersenyum pada saya.
“Sampai jumpa, Kampung Betawi”, pikir saya.