![]() |
| Mas Wahur dan Keluarga |
Asap kopi kian mengebul, berpadu dengan asap rokok dalam ruang sesak ini. Radio yang berbunyi, memberi informasi kondisi jalan dan sesekali mengeluarkan suara “BZZZT....BZZZZT” mengisi kesunyian pagi. Jam di dinding menunjukkan pukul 04.00 WIB. Sesosok Pria muncul dari gelapnya lorong kamar, dan menghampiri saya dengan senyum hangat.
Wahur namanya, dia merupakan seorang supir taksi Express. Perawakannya tinggi, sekitar
176 cm. Kulitnya hitam, dan dia menawari saya kopi. “Kopi mas erik?” tanyanya
pada saya. Senyum kembali menghiasi wajahnya. Sesekali dia memperhatikan saya,
sembari menghisap sebatang rokok Dji Sam Soe. Matanya menatap saya dalam-dalam.
“Mau tanya soal apa mas?” tanyanya.
“Soal
kehidupan, kehidupannya mas,” jawab saya. Dia tertawa terkekeh. Bahkan, sampai
batuk-batuk karena sedang menghisap rokok. “Kehidupan saya ya gini-gini ajah,
ga ada yang spesial,” katanya. Deru nafasnya terdengar di sekujur ruangan. Saya
mencoba membuka mulut, membeberkan niat saya secara detail.
Di rumah yang bahkan hanya berupa satu kamar
dan satu toilet ini, tentu akan sangat berasa hidup dengan empat orang anak dan
seorang istri yang nampaknya masih muda. Ah, saya jadi merasa berdosa telah
menyita waktunya, karena mendadak saya mampir ke rumahnya tanpa pemberitahuan
sebelumnya.
“Oh!!
Hidup jadi wong cilik toh!” kata Mas
Wahur (40) setelah mengerti apa yang saya maksud, dia pun mulai bercerita.
Hidup sebagai seorang supir taksi tidaklah mudah. Setoran semakin meningkat, sementara
penumpang semakin berkurang dari hari ke hari. Padahal, biaya hidup di kota
semakin meningkat.
Kondisi
yang mencekik ini menjadikan dia seperti sapi perah bagi juragan taksinya. Dia
bercerita jika hidup ini semakin tak adil. Yang kaya menjadi semakin kaya, yang
miskin menjadi semakin miskin. Untuk menabung saja, ia harus merelakan tak
makan agar uangnya terkumpul demi hidup yang lebih baik.
Lain
halnya dengan Wahur, Sopan (36) dapat menabung dan membuka usaha kecil-kecilan
yaitu fotokopi di warung depan rumahnya. Pria berpostur tinggi yang selalu
tersenyum sumringah ini membenarkan pernyataan Wahur. “Emang sih mas, yang
namanya supir ya gaji engga seberapa, apa lagi tuntutan setoran, tapi ya mau
gimana lagi,” jelas Sopan.
Lantas
apa yang dapat membuat dia dapat menabung? “Saya ingat anak saya mas, saya
boleh jadi wong cilik, tapi saya tidak mau dia mengikuti jejak saya,” jawab
Sopan yang memeluk hangat anaknya yang mulai beranjak remaja. Terus terang saya
tertegun. Hidup di rumah yang sempit ini, bersama ratusan bahkan ribuan nyamuk,
belum lagi tikus yang berlalu lalang seperti di New York Square, tentunya tidak
akan berasa nyaman.
Tapi
toh, Sopan enjoy dengan
hidupnya saat ini. Setidaknya dia punya keluarga kecil yang dia sayangi, dan rumah
tempatnya bernaung. Dia merasa jika pemerintah perlu memerhatikan orang-orang
yang senasib dengannya dan yang lebih menderita dari dirinya. Tidak semua
menikmati hidup layaknya Sopan. Tentu, banyak dari mereka yang ingin keluar
dari jerat kemiskinan. “Saya harap pemerintah membuka mata akan kondisi
rakyatnya, mereka semua tercekik, dan menjerit. Tak sedikit dari mereka pasrah
dan memilih untuk mati,” katanya sembari menatap kedua mata saya, menguncinya
dengan tatapan yang serius.
Teman
seperjuangan Sopan, Miko mengungkapkan hal yang senada. Dia menganggap
pemerintah perlu untuk memperhatikan rakyat miskin jauh lebih lagi dari yang
sekarang. Lebih lagi manajemen dan pemilik perusahaan taksi yang menurutnya
harus menurunkan harga setoran. Jika
tidak, hal itu akan terus mencekik pendapatannya dan kenyamanan hidupnya.
Inilah
kenyataan hidup wong cilik di negeri
ini. Rintihan mereka terus berlanjut, dan suara mereka teredam beserta dengan
impian mereka untuk lari dari nasib ini. keserakahan para pemilik perusahaan
taksi terus saja mencekik hidup mereka dan memeras mereka layaknya para romusha.
Mereka kian terhimpit demi kemakmuran para pemilik perusahaan taksi.
