Selasa, 18 Juni 2013

Penjual Kue dan Arus Waktu



Langit gelap. Ayam pun masih membisu. Keheningan memenuhi jalan. Di sisi kiri jalan terdapat satu rumah tua, disinari cahaya lampu 20 watt. Dinding-dinding rumah penuh dengan jamur dan bekas kekuningan, noda dari rembesan air dari atas atap menjadi saksi bisu rumah yang sudah rapuh ini. Di depan rumah, seorang perempuan paruh baya terlihat sibuk menyiapkan dagangannya. Tulng kakinya sudah rapuh, menyulitkannya untuk bergerak dengan cepat.
Sosok itu terlihat jelas dibawah cahaya lampu. Rambutnya yang keriting sudah memutih, bukti dari waktu yang terus berputar. Kantung matanya terlihat begitu jelas. Matanya merah berair, warna hitam di pupil matanya telah memudar. Tubuhnya gempal, hitam berkeriput. Dari kulit dan wajahnya, pasti tidak ada yang mengira jika ia keturunan tionghoa.Ia tertatih, perlahan berjalan menuju kompor yang mengeluarkan wangi santan segar.
IalahOei Yoh Mei alias Yoyoh Wijaya. Wanita yang lahir pada tanggal 14 Agustus tahun 1947 di Jatinegara ini sehari-harinya bekerja sebagai pedagang kue keliling. Di usia senja yang seharusnya ia sudah pensiun, dirinya tetap berjualan keliling setiap harinya. Bahkan, untuk mempersiapkan dagangannya, ia harus bangun mulai dari jam satu pagi.
Meskipun terlahir dalam lingkup keluarga keturunan Tionghoa, masa kecil Yoyoh diakui dirinya serba dengan kekurangan. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara ia harus rela hidup dalam jurang kemiskinan. Semua saudaranyaperempuan, terpaksa harus berhenti sekolah dan hanya sampai jenjang sekolah dasar. Yoh Mei putus sekolah saat duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Ibunya yang bekerja sebagai penjual kue tidak sanggup membiayai ketiga anaknya. Ayahnya, sudah meninggal semenjak Yoh Mei lahir.
Yoh Mei tak tinggal diam. Batinnya bergelut. Pikirnya, ia harus keluar dari jerat kemiskinan. Ia memutuskan ikut ibunya, Ng Sun Mei untuk berjualan kue keliling. Adik-adiknya yang masih bayi, dititipkan pada keluarganya yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Di hari itu juga, Yoh Mei kecil belajar membuat kue dan jajanan pasar.
Dengan cara meniru ibunya, Yoh Mei dapat membuat kue dan jajanan yang rasanya bahkan sama. Dengan cermat, ia memerhatikan setiap gerak ibunya, sehingga ia dapat membuat “kembaran” dari kue-kue yang akan dijual. Dengan bantuan Yoh Mei, kue-kue berlipat ganda sehingga keuntungan jadi lebih besar.  Meskipun penghasilannya tidak seberapa, tapi Ia tetap semangat berjualan kue dari waktu ke waktu. Ketika itu, ia baru berumur 8 tahun.
Nasib mujur seakan tak pernah datang menghampiri Yoh Mei. 1 tahun setelah ia berjualan kue keliling, ibunya jatuh sakit dan lumpuh. Hal itu memaksa Yoh Mei kecil mendapat tugas yang sangat berat, menjadi tulang punggung keluarga. Setiap hari, Yoh Mei berjalan kaki mengitari gang tempat ia tinggal. Saat kedua saudarinya masih terlelap, ia harus bersiap berangkat menjual dagangannya. Kaki dan jemarinya yang kecil, harus melangkah demi kepastian hidup para saudarinya.
Namun, gang tempat dirinya tinggal seperti gang yang “terbuang”. Berbagai tindak kriminal dan penyalahgunaan narkoba terjadi di gang ini. “Banyak jambret suka lari kesini” tutur Yoh mei. Bahkan pada suatu hari, sebelum ia berangkat menjual dagangan, ada seorang pria tergeletak di depan rumahnya, dan meminta air untuk menyuntik narkoba berjenis heroin. Tanpa ragu, ia memberi pria itu air, dan berharap agar pria itu cepat pergi dari rumahnya.
Hari demi hari Yoh Mei lalui berjualan kue, dan ia tak pernah sekalipun mengeluh. Ketika dagangannya kurang laku di gang tempatnya tinggal, ia berjalan menuju gang lain, berharap kue dan jajanannya akan habis sebelum menjadi dingin. Hari-hari itu ia lewati dengan semangat, meski ada kejadian yang sempat membuatnyaa putus asa.
Suatu hari ia sedang beristirahat dibawah pohon beringin. Ia meletakkan dagangannya tepat disamping kanannya. Seorang pria yang sedang berlari menabrak dagangannya, hingga dagangannya tumpah dan tidak bisa dijual kembali. Kalaupun bisa, tentu tidak ada yang mau membelinya. Pikirnya.
Ia takut untuk pulang. Ia takut dimarahi. Badannya seakan membeku seketika itu juga. Air matanya tumpah, membasahi kue yang sudah jatuh ke tanah. Ia memutuskan untuk tidur di bawah pohon itu hingga hari esoknya. Namun, salah seorang tetangga melihatnya sedang tertidur pulas. Maka, dibawalah ia kembali pulang.
Saat Yoh mei membuka matanya, ia terkejut. Ibunya menangis, berusaha memeluk putrinya tapi tidak bisa. ia memutuskan untuk jujur ke ibunya. Karena tidak dapat apapun malam itu, ia memakan singkong pemberian dari tetangganya, hadiah ulang tahunnya 3 hari yang lalu. ia pun terpaksa membuka celengannya untuk modal berjualan esok harinya, dan mengubur impiannya membeli rumah baru.
Hari demi hari dilalui olehnya, hingga ia kini beranjak remaja. Ia semakin terlihat hitam, dan seringkali merasa rendah diri jika berkumpul dengan keluarganya yang lain. Lambat laun, ia juga lupa bahasa mandarin yang dulu amat fasih ia ucapkan. Kini, yoyoh lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia. Ia yang dulu ogah memakan makanan tradisional seperti tempe, kini menggemarinya.
Yoh Mei senang bergaul dengan pribumi di sekitarnya. Menurutnya, orang pribumi jauh lebih apa adanya dibandingkan ornag keturunan yang seringkali menjaga image. Semakin lama, ia semakin sering mengobrol dengan para tetangganya, hingga suatu saat salah seorang pemuda keturunan jatuh hati padanya.
Setiap hari, hujan maupun terik, pria itu duduk di depan pagarnya, membeli kue-kue jualannya, tapi tak mengucapkan satu patah kata pun. Sambil menikmati kue-kue, pria itu menatap Yoh Mei dan kadang tersenyum. Awalnya, ia acuh pada pria itu. Tapi, lama kelamaan, cinta tumbuh di dalam hatinya. 
Sama seperti peribahasa Jawa,”withing tresno jalaran soko kulino”. Lama kelamaan ia luluh. Pria itu pun menyatakan cintanya pada Yoh Mei. “Elu mau kaga, kawin sama gue?” kata pria itu. Yoh Mei membalas positif lamaran pria itu. Tapi, ia meminta untuk pacaran dulu. Kala itu, usianya masih 17 tahun, sedangkan si pria 22 tahun.
Ketika si pria mengajak Yoh Mei ke rumahnya, betapa terkejutnya ia karena rumah si pria hanya berjarak 3 rumah dari rumahnya . Rupanya, pria itu telah memerhatikan Yoh Mei semenjak kecil. Bahkan, orangtuanya dulu sering membeli kue Yoh Mei. Diakuinya, kue itu enak. Jika tak berjualan sehari saja, pria itu pasti kangen.
Nama pria itu adalah Tan Peng Sui, yang kemudian lebih dikenal sebagai Epeng. Epeng lalu membantu Yoh Mei berjualan, jika ia sedang libur dari pekerjaannya. Suatu hari, pada waktu itu malam, sehabis maghrib ketika pulang dari berjualan kue Peng Sui menyatakan niatnya untuk melamar Yoh Mei. Dengan bahagia, ia menghadap calon mertuanya malam itu juga.
Mas kawin berupa uang 300 perak sebanyak 3 lembar telah disiapkan oleh Epeng. Pagi harinya, pada waktu itu sekitar subuh, di rumah Yoh Mei yang sempit, 11 orang, saudara dari kedua mempelai sudah berkumpul. Ruang tamu yang kcil dipenuhi dan sesak. Ketika waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB, barulah Peng Sui mengurus surat-surat pernikahan, termasuk ke gereja untuk meresmikan pernikahannya.
Hari-hari baru Yoh Mei dimulai. Di usianya yang baru saja menginjak 20 tahun, kini ia mempunyai keluarga. Pada waktu itu juga, ia merubah namanya menjadi Yoyoh. Waktu itu tahun 1967, ia dan suaminya berniat menabung untuk pindah dari gang itu dan mulai mencari rumah di daerah Bekasi. Sayangnya, kebijakan pemerintah menyulitkan niat Yoyoh dan Epeng itu.
Pada periode 1960-1965, perekonomian Indonesia menghadapi masalah yang berat sebagai akibat dari kebijakan pemerintah yang lebih mengutamakan kepentingan politik. Doktrin ekonomi terpimpin telah menguras hampir seluruh potensi ekonomi Indonesia akibat membiayai proyek-proyek politik pemerintah.
Sehingga tidak mengherankan, jika pada periode ini pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sangat rendah, laju inflasi sangat tinggi hingga mencapai 635% pada 1966, dan investasi merosot tajam. Dalam menjalankan kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) dibebani Multiple Objectives, yaitu selain menjaga stabilitas mata uang rupiah juga sebagai bank sirkulasi yang memberi pinjaman uang muka kepada pemerintah, serta menyediakan kredit likuiditas dan kredit langsung kepada lembaga-lembaga negara dan pengusaha.
Adanya inflasi membuat harga rumah meninggi, dan hal itu menyulitkan Yoyoh dan Epeng untuk membeli rumah bahkan secara kredit. Belum lagi kebutuhan yang bertambah karena putri mereka lahir, dan Epeng yang di PHK dari pabriknya. Selain itu, ia juga tidak mendapat pesangon. Untuk sementara, keluarga kecil mereka singgah di rumah orang tua Epeng.
Hidup dalam krisis dan inflasi yang ekstrim, tidak membuat Epeng dan Yoyoh putus asa. Dalam kondisi yang serba kekurangan, mereka menyekolahkan anakanya ke SD Santa Monica. Uang sekolah yang waktu itu 60.000, mereka tawar hingga mencapai nominal 500 rupiah. Tak disangka, kepala sekolah Santa Monica menyanggupi hal itu.
Sedikit demi sedikit, Yoyoh mulai dapat menabung, dan bahkan dari hasil tabungannya bersama dengan sang suami, ia sanggup membeli rumah sederhana di Pondok gede, Bekasi. Yoyoh pun dikaruniai 1 orang putri lagi, pada tahun 1975.
Kebahagiaannya kembali terusik pada tahun 1998. Tahun ini merupakan tahun yang mengerikan bagi setiap keturunan tionghoa, tidak terkecuali Yoyoh. Teror menyebar ke seluruh pelosok, termasuk rumahnya yang dilempari batu oleh oknum-oknum yang melintas di depannya.
Pada kerusuhan 1998, orang Tionghoa dituduh menjadi biang krisis ekonomi dan KKN di Indonesia karena mereka sering menggunakan sogokan untuk mendapatkan kemudahan dari pemerintah. Ratusan ribu orang Tionghoa di Indonesia, dibunuh, diperkosa, dan milik mereka dijarah massa. Hal ini menyebabkan banyak orang Tionghoa memutuskan untuk lari dari Indonesia, dan pindah ke negara2 tetangga seperti Australia dan New Zealand. Dan bahkan setelah reformasi, sebagian besar memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia karena mereka menemukan bahwa negara2 barat lebih menghormati hak2 mereka ketimbang Indonesia. 
Lain halnya dengan Yoyoh, jangankan ke luar negeri, untuk melarikan diri dari rumahnya sendiri pun ia tidak sanggup. Ia tidak punya pilihan selain bersembunyi dibawah meja, karena saat itu suaminya sedang diluar rumah. Ia hanya bisa menangis dan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, karena takut menjadi korban kekejaman oknum pengrusakan.
Ketika Yoyoh melihat kondisi rumahnya, semua telah dijarah. Foto-foto rusak, radio dan televisi 14 inch yang waktu itu baru saja dibeli Epeng telah raib diambil. Beberapa perabotan seperti lemari rusak. Tapi, tak banyak yang bisa Yoyoh perbuat. Malam itu, ketika Epeng pulang, ia hanya bisa berdoa supaya tidak ada yang bernasib sama dengannya.
Kenangan akan peristiwa itu masih diingat jelas olehnya, bahkan di tahun 2013 ini. Epeng yang sudah tidak kuat bekerja, membantunya membuat kue keliling. Sisa-sisa pengrusakan tahun 1998 sudah tidak terlihat, berkat bantuan menantu-menantunya.
Namun, anak-anaknya yang kini dewasa, seakan melupakan dirinya dan Yoyoh. Mereka tidak merawat Yoyoh dan Epeng yang terus hidup dalam kemiskinan. Dan malah menjadikan Yoyoh seperti pembantu yang beres-beres rumah dan menjaga cucu-cucunya. Ditambah lagi, untuk menopang hidupnya, Yoyoh tetap harus berjualan karena uang dari anaknya. 50.000 sebulan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tapi, Yoyoh pasrah akan kenyataan ini. Harapan akan keadaan yang lebih baik, ia kubur dalam-dalam di hatnya. Ia menatap langit-langit rumah, mengambil nafas dalam-dalam, dan menikmati udara senja itu. Di usianya yang kini lanjut, tak banyak yang ia harapkan. Ia hanya menginginkan sisa hidup yang tenang dan damai.
“Hidup ini berjalan, dengan atau tanpa diri kita” tandasnya.

Frederick
11140110148
B1

Selasa, 14 Mei 2013

Jelang Lebaran : Tiket Kereta Api Ludes Terjual






Minggu pagi (12/05), kerumunan orang sudah memenuhi Stasiun Senen. Stasiun ini dibanjiri lautan manusia. Mereka semua memiliki satu tujuan, membeli tiket kereta jauh-jauh hari untuk mudik ke kampung halamannya. Loket-loket penuh dengan calon penumpang, dan penjaga loket terlihat kewalahan melayani permintaan para calon penumpang.
Menurut kesaksian Ibu Retno, salah seorang calon penumpang kereta berniat membeli tiket dengan rute Jakarta-Yogyakarta untuk tanggal 4 agustus, Stasiun Senen buka selama 24 jam dalam 4 hari terhitung sejak tanggal 9-12 mei. Malangnya, dia belum mendapatkan tiket hingga saat ini. PT. KAI berencana menambah kereta dan menaikkan harga tiket hingga 50% mendekati hari lebaran.
Ibu Retno hanya satu dari sekian banyak calon penumpang yang harus gigit jari karena kehabisan tiket kereta. Beberapa orang hanya dapat terduduk diam dan mengeluh tidak mendapatkan tiket kepada orang yang senasib ataupun sanak keluarganya.
10  loket yang tersedia di Stasiun Senen tidak sanggup memenuhi semua permintaan yang membludak. Antrian yang memanjang semenjak pagi malah semakin meningkat menjelang siang. Indera perasa seakan mati rasa di stasiun ini. Bau keringat bercampur dengan bau kulit buah dan sisa makanan.
Ditengah-tengah kondisi yang kurang nyaman, banyak anak-anak ditengah kerumunan orang-orang, dan ada juga seorang lansia yang tertidur dengan mulut menganga. Dan dari wajah para calon penumpang, sangat jelas terlihat mereka telah letih menunggu dalam waktu yang lama.
Membeli tiket kereta dari jauh-jauh hari ternyata adalah hal yang lumrah bagi para pemudik. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kehabisan tiket kereta dan kehabisan kereta. Maka, tidak mengejutkan jika loket sudah dibuka jauh-jauh hari. Beberapa pemudik mempunyai tanggal favorit mereka. Yang menarik, kini mereka dipastikan duduk dan tidak berdiri lagi bersesak-sesakan layaknya gambaran sebuah kereta ekonomi.
Adanya layanan tiket.com dan penjualan tiket melalui beberapa minimarket rupanya tidak membantu mengurangi membludaknya calon penumpang yang mengantri. Hal ini dikarenakan lambatnya respon  melalui jalur online serta struk pembayaran yang harus ditukar dengan tiket sehingga membuat calon penumpang bekerja dua kali.
Hal ini membuat para calon penumpang cenderung memilih untuk mengantri dibanding memesan online. Menurut Mas Joko, seorang pedagang minuman dan rokok di depan Stasiun Senen, praktek calo tetap saja beredar di stasiun ini.
Meskipun PT. KAI telah memberikan peraturan satu formulir satu identitas, dengan KTP untuk keterangannya, tetapi saja ada oknum-oknum calo yang “nakal”. Mereka biasanya menggunakan sanak keluarganya untuk ikut mengantri sehingga dapat memperoleh tiket untuk kemudian dijual lagi. “Terkadang ada juga yang pake tetangga”, ujar Joko.
“Fenomena calo ini tidak dapat dihentikan selama ada kebutuhan membeli tiket. Meskipun nantinya mereka memasang harga yang mahal, tentu tetap ada yang membeli, selama pada mau pulang kampung”, sambungnya.



Selasa, 07 Mei 2013

Wisata Budaya di Kampung Betawi




“nyang kiri serempak, nyang kanan juge serempak, nyang tengah pada ga make sempak!”
Pantun jenaka itu dilontarkan salah seorang pemain Lenong yang mengundang tawa para pengunjung Kampung Betawi. Inilah guyonan khas Betawi yang blak-blakan. Meskipun seringkali para pemain menghina satu sama lain, tetapi tidak ada yang tersinggung ataupun marah.
Di sekeliling kampung terdapat banyak rumah untuk homestay, kekeluargaan amat berasa disini, hal yang terlihat jelas saat para warga saling bahu-membahu untuk membuat tenda yang megah didepan panggung. Maklum, akan ada anak yang hajatan. Di sisi kampung, ada pertunjukan Ondel-ondel. Banyak anak yang melihat, walau beberapa ada yang takut dan menangis.
Anak-anak berlari dan tertawa ria melihat Ondel-ondel. harumnya soto betawi dan bajigur tercium dari jauh, dan  hembusan angin dan alunan lagu Almarhum Benyamin terdengar serasi. Suasana ini khas Betawi. Ditambah lagi dengan ibu-ibu latah, “eh copot...copot”. mengingatkan saya pada sosok Mpok Atiek.
Inilah Kampung Betawi yang terletak di Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Kampung ini berupa layaknya sebuah komplek/ perumahan. Jalan penuh bebatuan. Saya mulai memasuki salah satu rumah yang khas bergaya Betawi, dihias kayu yang membuatnya terasa sejuk di dalam.
“Suasana yang nyaman”, Pikir saya. Tidak berapa lama  seorang wanita paruh baya menghampiri saya. Tangannya gemetar, memegang pundak saya, emmpersilahkan saya untruk duduk. Kerut di dahinya dan kantong mata yang ada menandakan beratnya pekerjaan yang dia lakukan.
Irma Rianti, salah seorang pengelola kampung ini, berbicara tentang banyak hal mengenai kampung ini ke saya. Salah satu hal yang menarik, kampung ini tidak sepenuhnya dihuni orang Betawi, tetapi juga suku lain seperti Jawa, dan ada orang Papua. Yang menarik, mereka yang berasal dari suku lain juga sanggup berbicara Betawi fasih. Sungguh unik melihat berbagai orang dari bermacam suku berpantun dengan bahasa Betawi.
Akses menuju kampung ini tidaklah sulit, karena semua orang disini akan mengerti jika kita mengarah ke RW 08. Kampung ini menyatu dengan objek wisata setu babakan, dan tutup pada pukul 17.00 WIB. Meskipun banyak pedagang di sekitar Setu Babakan, tetapi kampung ini tetap terawat dan tidak terkesan kumuh.
Pepohonan yang rindang menyambut tiap pengunjung yang hendak masuk ke dalam. Aroma khas dodol muncul dari dalam sebuah warung, bertuliskan “Dodol Nyak Mai”. Sayapun mencoba berjalan menelusuri jalan setapak menuju warung itu. Dari balik dahan-dahan pohon mangga, saya melihat pengadukan adonan dodol dengan alat yang serupa dengan dayung perahu.
Warung yang menyatu dengan rumah disampingnya itu terlihat sederhana. Atap-atapnya terkikis air hujan. Dua perempuan bertubuh gemuk secara bergantian mengaduk adonan coklat kental, yang ternyata adalah dodol. Adonan itu mengisi penuh wajan yang bahkan sebesar anak manusia itu. Dibawah wajan ekstra besar itu, ada tungku api yang memastikan adonan dodol tetap panas.
Sinar matahari terik tidak menghentikan para pengunjung kampung untuk melihat proses pembuatan dodol ini lebih dekat. Beberapa mulai merogoh saku mereka untuk mencicipi dodol yang menurut pembuatnya, Juwani tidak pernah diganti resepnya semenjak awal dibuat.
Meski disebut Kampung Betawi, tetapi makanan yang ada disini tidak semuanya khas betawi, ada juga mie ayam dan baso. Bahkan ada batagor. Rata-rata penjual fasih berbahasa Betawi, dan semua penjual makanan menawarkan barang dagangannya dengan harga yang wajar, berbeda dengan tempat wisata lain yang seringkali harganya “ekstrim”.
Saya memutuskan untuk kembali ke area Kampung Betawi setelah mendengar alunan lagu yang memanjakan telinga saya. Instrumen ini seakan menghipnotis saya untuk terus berjalan menuju Kampung. Setibanya di depan gerbang kampung, saya terkejut melihat ribuan pengunjung datang berbondong-bondong ke RW 08.
Ternyata, di hari ini ada Kesenian Gambang Kromong yang dinanti-nanti oleh para pengunjung. Kebetulan, sanggar kesenian Gambang Kromong yang akan datang adalah sanggar yang terkenal lucu, dan dapat mengundang tawa. Terlihat banyak sekali anak-anak yang kejar-kejaran, dan gerombolan ibu-ibu yang asik mengobrol.
Tikar dan Koran digelar di depan rumah-rumah yang ada. Kepadatan pengunjung kampung menjadi sama seperti Pekan Raya jakarta. Lautan manusia. Berkali-kali saya menginjak kaki pengunjung karena sulitnya berjalan dalam hiruk-pikuk keramaian yang ada. Situasi Kampung Betawi yang tadinya tenang, mendadak ramai bagaikan pusat bisnis dunia.
Amat disayangkan, kotoran memenuhi lantai rumah, sampah-sampah berserakan, hingga toilet pun menjadi kotor dan terbengkalai karena ulah para pengunjung yang tidak memerhatikan kebersihan. Banyak dari pengunjung juga melempar sesuatu ke dalam Setu Babakan, misalnya makanan yang tidak habis ataupun bungkus snack. Kondisi ini membuat air danau menjadi berwarna hijau kumuh.
Di depan panggung, para personil Gambang Kromong memainkan isntrumen khas betawi yang nyaring dan indah didengar. Para pengunjung secara tertib menyaksikan pertunjukan itu. Beberapa mengambil gambar, tapi tidak menutupi pandangan pengunjung lainnya. Beberapa lagi hanya sekilas melihat lalu berjalan ke arah Setu.
Sambil menyeruput kopi yang saya beli dari warung yang juga menjual Soto Betawi, saya berjalan dan melihat keadaan sekitar Setu Babakan. Banyak sekali kendaraan parkir, dan ada bangku untuk menikmati suasana Setu. Mayoritas yang duduk di bangku Setu Babakan adalah keluarga ataupun pasangan.
Puas menikmati kopi, saya kembali memasuki area RW 08. Tapi amat disayangkan, hujan turun deras, membasahi semua yang berada di luar area rumah. Meskipun para pengunjung kehujanan, sebagian pengunjung tidak menghiraukan hujan dan tetap menikmati alunan lagu Gambang Kromong.
Hari mulai senja, matahari mulai tenggelam. Para pengunjung Kampung Betawi mulai berbenah dan bersiap untuk pulang. Hujanpun telah berhenti. Tetes air di daun-daun yang rindang menjadi saksi bisu derasnya hujan yang turun. Orang-orang mulai meninggalkan panggung, termasuk saya. Saat saya berlalu, saya melihat sosok Ibu Irma yang tersenyum pada saya.
“Sampai jumpa, Kampung Betawi”, pikir saya.

Selasa, 30 April 2013

Tetes Air Mata Sri




“Aku wong ndeso, sliramu wong kutho..Aku wong miskin, uripmu terjamin”
                Penggalan lirik lagu “Wong Ndeso” ini memang menyesakkan dada, tetapi inilah realita. Di dunia ini, tak satupun orang berharap untuk dilahirkan sebagai orang miskin. Termasuk Sri Wahyuni, seorang Pembantu Rumah Tangga. Dia sudah lebih dari 20 tahun menjalani profesi itu.  Tapi Sri tidak bisa memilih, dia harus bertahan hidup demi memenuhi kebutuhan dirinya dan putrinya yang mulai beranjak dewasa.
                Masa kecil Sri dilaluinya dengan berbagai penderitaan. Ayahnya yang meninggal saat Sri masih dalam kandungan membuat dia dan 6 saudaranya terpaksa harus hidup dengan teramat sederhana. Bahkan, seringkali keluarga Sri tidak makan demi menabung untuk biaya merantau saudara-saudaranya yang sudah bosan hidup dibawah garis kemiskinan.
                Sri kecil tak ingin hanya berdiam diri, batinnya resah, dia juga mau merantau, tapi apa daya ibunya tidak mengizinkan. Ibu Sri percaya jika wanita itu kerjanya di dapur, bukan untuk mencari nafkah. Dia berharap suatu saat akan ada pria yang berniat untuk meminang Sri, sehingga kondisi keuangan keluarga tidak semakin memburuk.
                Tapi Sri menolak permintaan ibunya. Dia memang sayang ibunya, lebih dari siapapun, tetapi dia juga tidak mau kehormatannya direnggut oleh orang yang tidak dia cintai. Hatinya bergejolak. Dalam perasaan yang amat kacau dan pikiran yang terus berkecamuk, dia memutuskan untuk pergi dari rumahnya menuju kota Jakarta.
                Sebelum pergi, dia menulis surat permintaan maaf untuk ibunya, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, Sri mengambil seluruh uang tabungannya dan bergegas menuju stasiun kereta untuk ke Jakarta. Dengan modal pakaian secukupnya dan tekad untuk merubah nasib keluarga, Sri memantapkan langkahnya.
                Waktu itu tahun 1997, setahun sebelum lahirnya era reformasi. Sri sampai di Jakarta dengan segala kepolosannya. Dia tak tahu kemana arah tujuannya, dan hanya bisa meminta temannya yang juga merantau untuk mencarikan pekerjaan. Akhirnya, Sri memutuskan untuk menjadi seorang pengasuh bayi, atau babysitter.
                Keputusan Sri ini membuatnya memiliki sikap keibuan yang tinggi. Ia asuh anak-anak majikannya dengan rasa sayang, layaknya darah daging sendiri. Tetapi seringkali Sri harus berhenti dan berpindah majikan, karena perbuatan tak menyenangkan dari majikannya yang melecehkan kehormatannya.
                Sri, akhirnya memutuskan berhenti menjadi seorang babysitter dan menjadi pembantu rumah tangga seorang janda di kawasan Bekasi Timur. Disana, kebahagiaan Sri mulai nampak, meski tak jarang penderitaan menghampirinya. Seorang pria mulai mendekati Sri, menjanjikan kebahagiaan namun hanya sebatas dimulut saja.
                Tak jarang Sri dimintai uang oleh kekasihnya. Berbagai rayuan manis yang terucap, membuat Sri terlelap dalam mimpi indah mempunyai keluarga harmonis dan sederhana. Nyatanya, kekasih Sri tega meninggalkannya setelah Tabungan Sri dia bawa lari. Sri tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya menangis bersama derasnya hujan di malam yang dingin.
                Namun, Tuhan tidak pernah tidur. Sri akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Seorang pria bernama Jatmiko setia kepadanya, dan tidak pernah membiarkan Sri menderita. Miko menjadi tempat Sri berbagi cerita, dan tentunya berbagi kasih.  Hingga pada akhirnya Miko meminang Sri di tahun 2004, dengan pesta yang seadanya tetapi penuh senyum dari keduanya.
                 Kehidupan Sri sebagai seorang istri jauh lebih baik dibandingkan saat dirinya masih gadis yang penuh dengan derita serta air mata yang menemani malamnya. Sri melewati hari demi hari bersama suaminya, yang menjadi tenaganya di kala dia tak sanggup lagi bekerja.  Kesedihan melanda Sri ketika tahu suaminya sering bergonta-ganti pekerjaan karena majikannya yang kejam.
                Era baru penderitaan Sri dimulai ketika putri pertamanya, “Balqis” lahir. Dirinya sulit mencari dokter yang berbiaya murah, sedangkan waktu persalinanya sudah tidak dapat diundur lagi. Dalam keputusasaan, Sri akhirnya dibawa suaminya ke bidan setelah suaminya mendapat pinjaman uang dari temannya.
                 Pada tengah malam, 31 Oktober 2006, putri pertama Sri akhirnya lahir. Kelahiran putri pertamanya diwarnai senyum oleh orang orang di sekelilingnya. Namun, petaka besar menanti Sri. Suaminya berubah total. Miko Menjadi orang yang malas dan malah melupakan tugasnya sebagai seorang suami.
                Miko berhenti  bekerja dan malah sering pergi memancing. Dia mementingkan dirinya dibanding putrinya. Seringkali Sri bertengkar dengan suaminya karena Miko seakan tidak memikirkan keluarganya dan tidak mau tahu urusan keluarganya.  Sri kembali menangis, kebahagiaan yang didapatkannya hanyalah sesaat.
                Kini dia merindukan kampungnya, meski tak dapat kembali karena keterbatasan uang. Mimpi untuk merubah nasib semakin pudar, yang ada hanyalah air mata, berharap suaminya kembali menjadi yang dulu, yang dia sayangi.  Tetes air mata Sri kembali terjatuh, menahan pedih di hati, berharap waktu dapat berputar kembali.