Selasa, 30 April 2013

Tetes Air Mata Sri




“Aku wong ndeso, sliramu wong kutho..Aku wong miskin, uripmu terjamin”
                Penggalan lirik lagu “Wong Ndeso” ini memang menyesakkan dada, tetapi inilah realita. Di dunia ini, tak satupun orang berharap untuk dilahirkan sebagai orang miskin. Termasuk Sri Wahyuni, seorang Pembantu Rumah Tangga. Dia sudah lebih dari 20 tahun menjalani profesi itu.  Tapi Sri tidak bisa memilih, dia harus bertahan hidup demi memenuhi kebutuhan dirinya dan putrinya yang mulai beranjak dewasa.
                Masa kecil Sri dilaluinya dengan berbagai penderitaan. Ayahnya yang meninggal saat Sri masih dalam kandungan membuat dia dan 6 saudaranya terpaksa harus hidup dengan teramat sederhana. Bahkan, seringkali keluarga Sri tidak makan demi menabung untuk biaya merantau saudara-saudaranya yang sudah bosan hidup dibawah garis kemiskinan.
                Sri kecil tak ingin hanya berdiam diri, batinnya resah, dia juga mau merantau, tapi apa daya ibunya tidak mengizinkan. Ibu Sri percaya jika wanita itu kerjanya di dapur, bukan untuk mencari nafkah. Dia berharap suatu saat akan ada pria yang berniat untuk meminang Sri, sehingga kondisi keuangan keluarga tidak semakin memburuk.
                Tapi Sri menolak permintaan ibunya. Dia memang sayang ibunya, lebih dari siapapun, tetapi dia juga tidak mau kehormatannya direnggut oleh orang yang tidak dia cintai. Hatinya bergejolak. Dalam perasaan yang amat kacau dan pikiran yang terus berkecamuk, dia memutuskan untuk pergi dari rumahnya menuju kota Jakarta.
                Sebelum pergi, dia menulis surat permintaan maaf untuk ibunya, dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, Sri mengambil seluruh uang tabungannya dan bergegas menuju stasiun kereta untuk ke Jakarta. Dengan modal pakaian secukupnya dan tekad untuk merubah nasib keluarga, Sri memantapkan langkahnya.
                Waktu itu tahun 1997, setahun sebelum lahirnya era reformasi. Sri sampai di Jakarta dengan segala kepolosannya. Dia tak tahu kemana arah tujuannya, dan hanya bisa meminta temannya yang juga merantau untuk mencarikan pekerjaan. Akhirnya, Sri memutuskan untuk menjadi seorang pengasuh bayi, atau babysitter.
                Keputusan Sri ini membuatnya memiliki sikap keibuan yang tinggi. Ia asuh anak-anak majikannya dengan rasa sayang, layaknya darah daging sendiri. Tetapi seringkali Sri harus berhenti dan berpindah majikan, karena perbuatan tak menyenangkan dari majikannya yang melecehkan kehormatannya.
                Sri, akhirnya memutuskan berhenti menjadi seorang babysitter dan menjadi pembantu rumah tangga seorang janda di kawasan Bekasi Timur. Disana, kebahagiaan Sri mulai nampak, meski tak jarang penderitaan menghampirinya. Seorang pria mulai mendekati Sri, menjanjikan kebahagiaan namun hanya sebatas dimulut saja.
                Tak jarang Sri dimintai uang oleh kekasihnya. Berbagai rayuan manis yang terucap, membuat Sri terlelap dalam mimpi indah mempunyai keluarga harmonis dan sederhana. Nyatanya, kekasih Sri tega meninggalkannya setelah Tabungan Sri dia bawa lari. Sri tak dapat berbuat apa-apa. Dia hanya menangis bersama derasnya hujan di malam yang dingin.
                Namun, Tuhan tidak pernah tidur. Sri akhirnya mendapatkan kebahagiaan. Seorang pria bernama Jatmiko setia kepadanya, dan tidak pernah membiarkan Sri menderita. Miko menjadi tempat Sri berbagi cerita, dan tentunya berbagi kasih.  Hingga pada akhirnya Miko meminang Sri di tahun 2004, dengan pesta yang seadanya tetapi penuh senyum dari keduanya.
                 Kehidupan Sri sebagai seorang istri jauh lebih baik dibandingkan saat dirinya masih gadis yang penuh dengan derita serta air mata yang menemani malamnya. Sri melewati hari demi hari bersama suaminya, yang menjadi tenaganya di kala dia tak sanggup lagi bekerja.  Kesedihan melanda Sri ketika tahu suaminya sering bergonta-ganti pekerjaan karena majikannya yang kejam.
                Era baru penderitaan Sri dimulai ketika putri pertamanya, “Balqis” lahir. Dirinya sulit mencari dokter yang berbiaya murah, sedangkan waktu persalinanya sudah tidak dapat diundur lagi. Dalam keputusasaan, Sri akhirnya dibawa suaminya ke bidan setelah suaminya mendapat pinjaman uang dari temannya.
                 Pada tengah malam, 31 Oktober 2006, putri pertama Sri akhirnya lahir. Kelahiran putri pertamanya diwarnai senyum oleh orang orang di sekelilingnya. Namun, petaka besar menanti Sri. Suaminya berubah total. Miko Menjadi orang yang malas dan malah melupakan tugasnya sebagai seorang suami.
                Miko berhenti  bekerja dan malah sering pergi memancing. Dia mementingkan dirinya dibanding putrinya. Seringkali Sri bertengkar dengan suaminya karena Miko seakan tidak memikirkan keluarganya dan tidak mau tahu urusan keluarganya.  Sri kembali menangis, kebahagiaan yang didapatkannya hanyalah sesaat.
                Kini dia merindukan kampungnya, meski tak dapat kembali karena keterbatasan uang. Mimpi untuk merubah nasib semakin pudar, yang ada hanyalah air mata, berharap suaminya kembali menjadi yang dulu, yang dia sayangi.  Tetes air mata Sri kembali terjatuh, menahan pedih di hati, berharap waktu dapat berputar kembali.